Belum begitu lama Assassin's Creed III
diluncurkan, para gamers sudah dikejutkan kembali dengan hadirnya sekuel
terbaru dari seri Assassin's Creed, yaitu Assassin's Creed IV: Black
Flag. Rumor mengenai sekuel terbaru itu, telah digembor-gemborkan sejak
awal tahun tepatnya pada bulan Februari 2013, sedangkan rilisnya
Assassin's Creed III dilakukan pada bulan Oktober 2013. Sehingga dapat
disimpulkan, Ubisoft memang sudah mempersiapkan sekuel baru tersebut dan
sudah sangat berniat untuk mengejutkan para gamers khususnya fans dari
seri game Assassin's Creed.
Assassin's Creed IV: Black Flag memiliki setting waktu pada abad
ke-18 dan memperkenalkan assassin baru bernama Edward Kenway, pemuda
Inggris yang haus akan bahaya serta petualangan. Edward akan
berpetualang sebagai prajurit Royal Navy sampai bajak laut, diantara
keadaan perang kerajaan yang besar. Edward yang digambarkan sebagai
bajak laut bengis dan petarung yang berpengalaman, terperangkap dalam
pertempuran antara kaum assassins dan templars. Bajak laut terkenal
seperti Blackbeard dan Charles Vane dapat para gamers lihat di dalam
game ketika telah berpetualang ke seluruh wilayah Hindia Barat. Sehingga
Assassin's Creed IV: Black Flag ini akan membawa para gamers ke dalam
masa-masa kejayaan para bajak laut yang sering disebut "Golden Age of
Pirates".
Assassin's Creed IV: Black Flag akan menghadirkan 50 tempat berbeda
di dalam game, seperti Kuba, Bahama, Nassau dan Florida Selatan, serta
sejumlah area seperti hutan, kuil reruntuhan Suku Maya dan kuburan
bangkai kapal di bawah laut. Gameplay sekuel terbaru dari seri game
Assassin's Creed itu tidak jauh berbeda dengan seri sebelumnya, pemain
masih akan bertarung dengan memanfaatkan berbagai senjata khas assassin
dan menghabisi musuh secara sembunyi-sembunyi.
Bagi gamers yang
ingin bermain Assassin's Creed IV: Black Flag dengan menggunakan PC,
dibawah ini adalah spesifikasi komputer yang direkomendasikan oleh
Ubisoft :
Operating System
Windows Vista SP 1, Windows 7 atau Windows 8 (32 dan 64 bit)
CPU
Intel Core i5 2400 2.5 GHz atau AMD Phenom II X4 940 3.0 GHz atau lebih baik
Memory
Minimal 2GB, Rekomendasi 4GB
Hard Drive Space
30 GB
Graphics Hardware
Nvidia GeForce GTX 470 atau AMD Radeon HD 5850 (1024 MB VRAM dengan Shader Model 5.0 atau diatasnya)
Electronic Arts kembali menghadirkan seri Need
for Speed untuk gamers yang menggemari balap mobil, kali ini dengan
judul Need for Speed: Rivals. Apabila tahun kemarin Criterion mencoba
untuk membuat Need for Speed yang memiliki citarasa Burnout, seri kali
ini dikembangkan oleh studio baru EA Ghost Games -bersama bantuan
Criterion- untuk memberikan pengalaman balap mobil yang lebih baik.
Polisi mengincar pembalap liar yang lewat.
Para fans tentu ingat dengan judul Need
for Speed: Hot Pursuit, sebuah game dimana pemain bisa memilih untuk
menjadi pembalap atau menjadi polisi. Need for Speed: Rivals mengambil
elemen tersebut dan mengembangkannya menjadi sebuah game open-world
online yang seru. Pemain akan bisa memilih apakah mau berkarir menjadi
pembalap liar ataupun menjadi polisi yang bertugas menangkapi para
pembalap tersebut.
Pilihan Speedlist untuk naik level.
Game ini memiliki sistem progresi bernama
Speedlist (untuk pembalap) atau Assignments (untuk polisi) yang berupa
satu set objectives untuk diselesaikan. Dengan menyelesaikan satu set
objectives, maka pemain akan naik level dan meng-unlock berbagai hal
baru seperti mobil ataupun tech pursuit. Objectives yang diberikan cukup
variatif, ada yang disuruh mendapatkan Silver dalam satu event,
menghantam pembalap lain, menghabiskan Nitrous, dan sebagainya.
Rivals
menyediakan cukup banyak pilihan mobil, mulai dari Ford, Ferrari,
Lamborghini, Chevrolet sampai Porsche. Sayangnya, game ini minim mobil
asal Jepang. Kustomisasi mobil agak berbeda untuk masing-masing karir.
Untuk polisi, hanya bisa meng-upgrade stats mobil saja, tidak ada
kustomisasi tampilan. Sementara untuk pembalap ada kustomisasi tampilan
berupa warna, decals, dan livery. Kedua karir tersebut bisa melakukan
kustomisasi atas plat nomor mobil.
Warna merupakan salah satu hal yang bisa dikustomisasikan.
Fitur kustomisasi agak mengecewakan, karena
para fans balap mobil biasanya ingin bisa mengkustomisasi mobil mereka
secara menyeluruh seperti memberikan bemper baru, carbon hood,
sideskirts, spoilers, dan sebagainya pada mobil mereka. Sayangnya, hal
ini absen di Need for Speed: Rivals.
Tech Pursuit yang cenderung sadis untuk menghancurkan mobil lawan.
Sebagai gantinya, baik polisi maupun
pembalap liar mendapatkan yang namanya Tech Pursuit, sebuah sistem untuk
menyerang mobil lain. Ada Shockwave untuk mementalkan mobil di sekitar,
ada EMP Blast, spikestrips dan sebagainya. Fokus pada Need for Speed:
Rivals masih mirip dengan seri Burnout, menang dengan segala cara,
termasuk menghancurkan mobil lawan menggunakan berbagai macam Tech
Pursuit. Polisi pun menangkap para pembalap dengan excessive force,
alias menghancurkan mobil mereka.
Dilihat dari kedua sisi, tampak
bahwa menjadi polisi lebih mengasyikkan dibandingkan menjadi pembalap
liar. Sebagai pembalap liar, pemain harus selalu melarikan diri apabila
dikejar polisi, dan apabila tertangkap oleh polisi sebelum berhasil
pulang, maka seluruh Speed Points (SP) berikut multiplier akan hilang
sia-sia. Padahal Speed Points sangat penting sebagai mata uang untuk
meng-upgrade mobil, membeli mobil, membeli Tech Pursuit, dan sebagainya.
Di
lain pihak, sebagai polisi pemain tidak perlu membeli mobil karena
langsung ter-unlock sendiri. Kekhawatiran hilangnya Speed Points juga
sangat minim, kecuali ada pemain lain yang sengaja menghancurkan mobil
polisinya.
Need for Speed: Rivals mengambil setting di
Redview County, sebuah lokasi fiktif open-world yang memukau dan
memiliki cuaca dinamis. Mobil-mobil dalam game ini tampil realistis,
bisa kotor, dan rusak. Tampaknya EA mengimplementasikan sistem
first-person shooter dalam game balapan ini karena semakin mobil rusak,
maka tampilan layar akan menjadi semakin 'kotor'.
Cuaca dinamis.
Untuk memperbaiki mobil, pemain bisa
melewati berbagai lokasi reparasi dan mobilpun akan langsung diperbaiki
secara instan. Tidak masuk akal, namun untuk sebuah game bernuansa
arcade, hal ini wajar untuk dilakukan agar tidak mengganggu flow dari
balapan.
Lagu-lagu yang disediakan bervariasi, mulai dari lagu
electronic rock hingga lagu-lagu hiphop. Namun yang seru adalah lagu
gubahan Vanesa Lorena Tate ketika sedang terjadi kejar-kejaran dengan
polisi. Need for Speed: Rivals juga memiliki cerita yang dinarasikan
menggunakan voice acting, namun seperti game balapan lainnya, hal ini
tidaklah penting.
Main beramai-ramai, baik jadi polisi ataupun jadi pembalap liar.
Dalam sebuah sesi Need for Speed: Rivals,
apabila pemain terkoneksi ke Internet, maka sistem sosial bernama
AllDrive akan menyala. Dengan sistem ini, pemain tidak akan balapan
sendirian saja, melainkan akan bertemu dengan pemain-pemain lain secara
online dengan maksimal pemain 6 orang.
Pembalap lain bisa ikut
balapan bersama atau mengacau di balapan yang sedang dilakukan pemain
lain. Bisa juga menjadi polisi untuk menangkapi pemain yang berkeliaran,
termasuk yang sedang balapan. Inilah yang namanya single-player
terintegrasi dengan multiplayer.
Jika pemain tidak ingin diganggu
oleh pemain lain, bisa juga memainkannya secara offline. Dalam sesi
offline, pemain tetap akan merasa berada di dunia penuh pembalap liar
karena tetap akan ada AI pembalap liar yang suka menantang untuk balapan
di tengah jalan serta mobil-mobil polisi yang siap menangkapi para
pembalap liar.
Mau jadi polisi atau jadi pembalap?
Perlu dicatat bahwa Need for Speed: Rivals
hanya memiliki dua tampilan saja, chase camera dan bumper camera. Chase
camera tidak bisa disetel, dan berhubung kameranya cenderung terlalu
dekat dengan mobil yang ukurannya cukup besar, maka pemain kadang-kadang
akan kesulitan melihat ke depan, terutama kalau jalannya menanjak
kemudian menurun.
Final Verdict
Ghost Games berhasil menciptakan sebuah pengalaman balap mobil yang
benar-benar unik, single-player namun digabungkan dengan multiplayer
dimana sesama pemain bisa saling membantu ataupun saling mengacau. Main
offline pun tetap terasa asyik dengan ramainya AI pembalap berkeliaran
dan polisi yang selalu siaga.
Para fans balapan, inilah game balapan model arcade yang benar-benar
seru untuk dimainkan bersama. Need for Speed: Rivals versi PS3 sudah
bisa dibeli di GS Shop, sementara versi PS4 sudah bisa dipesan. (ZBT)
Tidak diragukan lagi bahwa Hideo Kojima telah
berani mengambil resiko ketika ia mempercayakan Platinum Games untuk
membuat salah satu dari seri Metal Gear. Ketika Kojima memilih studio
yang terbiasa untuk membuat sebuah game ‘full-action’, tentu para fans
menjadi sangat terkejut. Tetapi tudingan tersebut dapat ditepis ketika
Metal Gear Rising: Revengeance meluncur tahun lalu yang menuai banyak
pujian. Sekarang, dengan versi yang telah di-update dan hadir di
‘mustard-race platform’ ini, mereka yang belum sempat merasakan game ini
dapat merasakan versi definisi tinggi dari game action berbendera Metal
Gear ini, walau game ini terasa hadir sedikit terlambat.
Mengambil
latar tempat tepat setelah Metal Gear Solid 4: Guns of the Patriots
berakhir, Revengeance menugaskan Raiden untuk mengamankan seorang
perdana menteri di Afrika, N’Mani. Semua terjadi begitu cepat ketika
barisan konvoi dari perdana menteri tersebut diserang oleh sekelompok
teroris, yang menyebabkan kekacauan dimana mana. Upayanya untuk menolong
N’Mani ternyata berbuah buruk. N’Mani akhirnya terbunuh dan Raiden
hampir saja dihabisi oleh Jetstream Sam yang sangat kuat. Kemudian, tiga
minggu setelahnya, Raiden terbangun dengan seluruh upgrade termutakhir –
termasuk lengan cybernetic, menggantikan lengannya yang ditebas oleh
Jetstream Sam – dengan satu tujuan di pikirannya: Balas Dendam.
Apabila Anda adalah para fanboy yang mengharapkan game ini akan
setipe dengan game stealth action seperti Metal Gear Solid, Anda
sebaiknya menjauhi game ini, karena Anda berada di tempat yang salah.
Inti permainan dari Revengeance adalah aksi gila yang penuh dengan sabet
menyabet pedang serta pertempuran epic. Untungnya, game yang penuh
dengan aksi eksplosif ini berhasil untuk menciptakan nuansa baru dari
seri Metal Gear. Kami serius, ini adalah sebuah tipe baru dari game
blade combat yang telah Anda tunggu-tunggu semenjak Grey Fox menghabisi
ratusan tentara di Metal Gear Solid (MGS Fanboy will know this…)
Bahkan
dengan fokus utamanya pada combat, Revengeance berhasil untuk
menyajikan sebuah game action yang bermakna, dengan memberikan reward
kepada para pemain yang benar-benar memainkan game ini. Dengan
menyisihkan sedikit dari waktu Anda, Anda dapat memahami lebih dalam
tentang sistem combat yang diterapkan oleh game ini. Timing dan alur
penyerangan adalah kunci utama untuk menjadi seorang pembunuh yang
efektif, yang menjadi tujuan utama Raiden dibuat. Ini adalah hal yang
sangat penting, walaupun feel ketika memainkan game ini dengan mouse dan
keyboard tidak sama dengan saat kami memainkan game ini menggunakan
gamepad.
Memantapkan posisi Anda di medan pertempuran juga
merupakan hal yang sangat penting, yang dapat menambahkan ritme ke dalam
combat yang Anda temui, dan apabila Anda menghajar para musuh dengan
kecepatan serta waktu yang efisien, Anda akan menambahkan fuel cell
energy Anda. Resource ini akan memungkinkan Raiden untuk memasuki Blade
Mode, yang mana mode ini adalah salah satu inti dari combat system yang
ada di Revengeance. Dengan mengaktifkan mode ini, pemain akan diberikan
kebebasan untuk melibas targetnya sendiri dengan bantuan analog stick
(atau Mouse, apabila Anda menggunakan mouse dan keyboard.) Menebas badan
dan kepala musuh Anda tidak akan pernah seasyik ini.
Manfaatkan peluang yang diberikan oleh Blade Mode. Hal ini sangat
penting bagi Anda untuk mempelajari bagaimana cara untuk melakukan
teknik Zandatsu. Teknik ini akan menampilkan sebuah area berwarna merah
untuk Anda tebas, yang akan memisahkan musuh Anda dengan tulang belakang
mereka yang berpendar seperti lampu neon. Dengan mengumpulkan resource
ini dalam combat, Anda akan memiliki persediaan electrolytes yang akan
mengisi health dan fuel cell meter Anda. Hal ini menjadikan Anda akan
secara konstan menggunakan Blade Mode untuk menjaga laju tempur Anda
tetap stabil dan menjaga agar diri Anda tidak terpojok tanpa adanya
energi untuk melarikan diri dari kepungan musuh.
Setelah Anda berhasil mengiris-iris boss terakhir untuk rebusan
Zandatsu Anda, beberapa pilihan akan tersedia untuk Anda jelajahi. Anda
dapat memainkan game ini kembali dengan tingkat kesulitan yang lebih
tinggi, yang akan menghadirkan sebuah tantangan untuk Anda yang ingin
menajamkan skill Anda. apabila Anda menginginkan sesuatu yang sedikit
berbeda kali ini, Anda cukup beruntung, karena kali ini di versi PC-nya,
game ini menghadirkan expansion pack berupa DLC yang menceritakan
tentang Jetstream Sam dan Blade Wolf, yang menambahkan beberapa jam
tambahan gameplay (yay!) Ya, walaupun DLC ini bukanlah sebuah campaign
penuh, tetapi dengan dimungkinkannya kita memainkan karakter yang
berbeda ini menjadikannya sebuah hal baru yang cukup menarik. Sebagai
tambahan, lebih dari lima puluh misi VR juga disertakan yang akan
menyajikan aksi instan kepada Anda untuk menguji kemampuan refleks dan
skill Anda.
Menutup review kali ini, versi porting PC dari Metal Gear Rising: Revengeance ini
adalah sebuah ‘paket komplit’ yang menyajikan sebuah peningkatan yang
cukup menarik, baik dari sisi frame rate maupun visualnya. Walau
kehadirannya terasa sedikit terlambat, game ini terasa lebih asyik
dimainkan ketimbang saudara kembarnya yang hadir di konsol. DLC yang
hadir dalam satu paket penjualannya menjadikan versi definisi tinggi
dari Metal Gear Rising: Revengeance ini adalah game yang cukup
wajib untuk Anda beli. Kecuali apabila Anda telah lebih dahulu
membelinya untuk PS3/Xbox 360 Anda, karena dari segi lain tidak ada
aspek yang mengalami peningkatan secara signifikan.
Hampir sepuluh tahun sejak terakhir kalinya rilis
Thief: Deadly Shadows, Eidos berhasil merilis entri keempat dari
franchise tersebut dengan judul Thief. Ini merupakan suatu bentuk reboot
dari franchise tersebut sebagaimana Square Enix yang akhir-akhir ini
memang hobi untuk membangkitkan judul-judul lama seperti Deus Ex: Human
Revolution dan Tomb Raider yang terbukti sukses.
Reboot ini dimulai dengan Garrett, sang Master Thief, yang harus
mencuri sebuah kristal bersama anak didiknya. Karena suatu insiden,
proses pencurian pun gagal dan anak didiknya pun hilang. Garrett
tersadar pada satu tahun kemudian ketika ia sedang dibawa menuju The
City, tempat asalnya. Dari sini, Garrett harus mencari tahu apa yang
terjadi pada dirinya sambil menghadapi tirani The Baron dan anak buahnya
yang berkuasa di kota kelam yang dilanda wabah Gloom tersebut.
Masih seperti judul-judul sebelumnya, gameplay dalam Thief
benar-benar sangat berfokus pada stealth. Melihat kesuksesan Deus Ex:
Human Revolution, Eidos Montreal menawarkan tiga cara bermain yang
berbeda: Ghost, Opportunities, dan Predator. Di akhir misi, gamers bisa
mengetahui gaya bermainnya lebih condong ke arah mana. Gamers pun bisa
mengulang misi apabila tidak puas dengan hasilnya.
Dalam Thief, Garrett hanya mempunyai dua macam senjata: blackjack
untuk melee dan busur panah untuk jarak jauh. Gamers tidak perlu
khawatir karena Garret membawa berbagai macam panah yang kegunaannya
disesuaikan menurut situasinya, mulai dari panah tumpul untuk
mengaktifkan switch, panah untuk membunuh, panah untuk memadamkan api,
hingga panah dengan tali.
Semua keperluan Garrett, mulai dari panah, peralatan, dan lainnya,
memerlukan uang untuk dapat diperoleh. Tentunya sebagai pencuri, gamers
akan mengumpulkan uang dengan cara mencuri. Benda yang dicuri
benar-benar banyak, mulai dari sendok dan garpu hingga perhiasan. Ada
barang-barang collectible seperti perhiasan yang unik atau plat yang
tersebar di kota.
Kelamnya atmosfir The City benar-benar terasa karena didukung grafik dan audio yang cukup menakjubkan. Dalam Thief ini, gamers harus benar-benar mengandalkan bayangan. Oleh karena itu, Eidos Montreal tidak main-main dalam teknologi lighting di
game ini. Pencahayaan yang terlihat benar-benar detil, dan berhasil
membuat suasananya kelam. Pengarahan audio pun tidak kalah. Sesekali
gamers bisa mendengarkan dialog penduduk The City yang menceritakan
betapa tidak nyamannya suasana kota tersebut.
Seperti yang sudah disebutkan di atas, Eidos Montreal menganut sistem Deus Ex: Human Revolution dimana
gamers bisa bebas memilih gaya bermain dan menawarkan beberapa rute
jalan menuju tujuan. Tetapi karena Garrett adalah seorang pencuri, hal
ini terkesan malah membuat gerakan Garrett lebih terbatas. Jika gamers
ingin bermain dengan gaya agresif terdapat kesulitan akibat senjata yang
tidak terlalu kuat dan senjata musuh yang lebih kuat. Sedangkan karena
ada beberapa rute yang ditawarkan, game-nya jadi memberi kesan yang
memaksa gamers untuk melalui rute-rute tersebut, tidak bisa bebas
mencari jalan yang unik sendiri.
Di satu sisi, mungkin Thief ini terasa lebih terbatas jika dibandingkan dengan Dishonored, dimana game tersebut memiliki setting mirip, yaitu steampunk. Namun, Thief cocok bagi mereka yang ingin bermain stealth sepenuhnya. Belum lagi Eidos Montreal menawarkan kustomisasi untuk tingkat kesulitan seperti akan langsung game overapabila ketahuan atau harus mengulang game dari awal apabila mati.
Final Verdict
Penggemar klasik Thief mungkin akan merasa entri terbaru Thief ini lebih terbatas jika dibandingkan dengan judul-judul sebelumnya. Tetapi sebenarnya Thief adalah judul yang benar-benar memaksa gamers untuk bermain secara stealth. Jika gamers merasa akhir-akhir ini tidak ada game stealth yang menantang, Thief bisa menjadi pilihan yang cukup baik. (RG).
Setelah mengalami penundaan perlirisan pada tahun 2013, akhirnya pada
tanggal 27 Mei 2014 game dari Ubisoft Montreal, Watch Dogs telah
dirilis ke seluruh dunia. Game ber-genre action adventure yang bercerita
tentang seorang hacker bernama Aiden Pierce ini ber-setting pada masa
depan kota Chicago dimana sistem pada kota tersebut dikendalikan oleh
satu sistem super komputer yang dinamakan CtOS.
Sebelum membaca ulasan ini lebih lanjut, yuk nonton trailer-nya terlebih dahulu.
Game yang mulai dikembangkan pada tahun 2009 dan mulai diumumkan pada
acara konfrensi pers E3 2012 ini dapat dimainkan pada konsol
PlayStation 4, PlayStation 3, Xbox One, Xbox 360 dan PC. Rencananya
Watch Dogs juga akan dirilis untuk konsol Nintendo Wii U pada kuartal
keempat tahun 2014. Terdapat perbandingan grafis yang ditampilkan pada
masing-masing konsol dimana pada konsol PlayStation 4 dan Xbox One,
Watch Dogs sangat keren tapi pada PlayStation 3 dan Xbox 360 game ini
dinilai cukup mengecewakan.
Watch Dogs mengadopsi sitem open world dalam gameplay-nya dimana hal
tersebut memungkinkan gamers untuk mengeksplorasi secara luas dan bebas
apa yang terdapat di dalam game serta memilih misi sampingan apa yang
ingin dikerjakan. Alur cerita yang ditampilkan dalam misi utama semakin
menarik dengan cutscene panjang dengan adegan hancking yang sangat
profesional. Selain itu, gamers juga dapat memainkan beberapa mini game
yang semakin membuat konten di game ini jadi semakin kaya. Watch Dogs seringkali dibanding-bandingkan dengan game buata Rockstar Games, Grand Theft Auto V(GTA 5), game yang juga mengadopsi sistem open world yang
bercerita tentang 3 orang gangster bernama Michael De Santa, Trevor
Philips dan Franklin Clinton. Hal yang sering dibandingkan antara laingameplay-nya dimana antara Watch Dogs dan GTA 5 sama-sama
memungkinkan gamers untuk mengesplorasi dunia sesuai dengan keinginan
baik saat sedang menjalankan misi maupun ketika seluruh misi sudah
diselesaikan.
Gamers dimungkinkan untuk mencuri
kendaraan seperti mobil dan motor yang sedang berlalu lalang di kota
Chicago, menembak pejalan kaki yang menghalangi perjalanan, berenang dan
beberapa hal lainnya. Hanya saja Watch Dogs, pada karakter Aiden, memiliki hal yang tidak ada di ketiga tokoh GTA 5 yaitu kemampuan meretas yang sangat canggih dengan menggunakan smartphone yang dilengkapi dengan banyak aplikasi antara lain Profiler dan Crime Prevention System.
Game
yang diperlihatkan dalam sudut pandang orang ketiga ini menjadi semakin
mengagumkan dan bisa juga dikatakan usil dengan kemampuan tokoh utama,
Aiden untuk mengendalikan perangkat komputer yang ada di sekitarnya
hanya dengan smartphone yang kru KotGa jelaskan sebelumnya. Salah satu
aksihacking paling jahil yang ditampilkan pada
game ini adalah dengan mengendalikan lampu lalu lintas sehingga
menyebabkan terjadinya tabrakan beruntun di perempatan jalan.
Lingkungan di game ini berlangsung dengan sangat natural dimana
setiap karakter memiliki reaksi dan sifatnya tersendiri. Ada yang
pemarah, biasa saja, penakut, ada juga yang merasa terganggu apabila
Aiden mendekat kepadanya dan masih banyak lagi. Selain itu, gamers juga
bebas untuk menentukan skill dan kemampuan apa yang dimiliki Aiden
dimana gamers dapat melakukannya dengan mendistribusikan skill point
pada skill tree yang ada seperti kemampuan hacking, combat dan
lain-lain.
Selain mengendalikan kota Chicago dengan kemampuan hancing, gamers
juga dapat memanfaatkan lingkungan sekitar yang tidak menggunakan
komputer dengan baik untuk melarikan diri dari kejaran polisi atau
mengejar target seperti melompat diantara bangungan dan menaiki dinding
dengan gerakan gerakan Parkour yang keren. Namun gamers juga dapat
mengkombinasikan antara kemampuan bertarung, aksi kejar-kejaran dengan
kemampuan hacking sehingga pengalaman dalam bermain jadi jauh lebih
canggih dan seru.
Secara keseluruhan, Watch Dogs merupakan game dengan alur cerita yang
sangat seru, aksi memukau serta grafis yang bisa dibilang luar biasa
walaupun tergantung dari konsol yang digunakan atau spesifikasi PC yang
digunakan pada PC. Namun jika dibandingkan dengan GTA 5, kru KotGa
berkseimpulan bahwa Watch Dogs memiliki gaya permainan yang tidak jauh
berbeda dengan game buatan Rockstar Games itu, hanya saja dengan
kemampuan hack yang membuat permaian jadi lebih mudah.
Game Sniper Elite 3 yang kita jual sudah termasuk : Extra features:
Supports Steam Big Picture Mode
Supports Stereoscopic 3D Ultra Widescreen Eyefinity screens
DLC's included :
Target Hitler: Hunt the Grey Wolf
Camouflage Weapons Pack
Hunter Weapons Pack
Allied Reinforcement Outfits Pack
Season Pass
Game dengan genre shooter memang menjadi salah satu yang terpopuler
dari sekian banyak genre lainnya. Beragam tema sudah diangkat oleh para
developer untuk memastikan game shooter miliknya punya ciri khas
tersendiri.
Sebagian besar dari Anda tentunya sudah pernah mencicipi Battlefield
series, Call of Duty series, Halo, atau Crysis. Dari sekian banyak judul
ternama, sesungguhnya ada satu judul lagi yang juga punya gameplay
menarik, yaitu Sniper Elite.
Ya, game ini memang berbeda karena memfokuskan diri pada seorang
penembak jitu. Gamer pun dituntut lebih tactical, tidak sekedar maju ke
garis depan lalu menghabisi musuh yang ada dengan senjata otomatis.
Kini Rebellion selaku developer telah menyiapkan karya terbarunya
yang diberi judul Sniper Elite 3. Trailer anyar pun sudah bisa
dinikmati. Dalam video berdurasi 1 menit 24 detik itu sang tokoh utama,
Karl Fairburne, tengah terlibat konflik di kota Tobruk, Libya. Perlu
diketahui bahwa Sniper Elite 3 berlokasi di Afrika Utara selama Perang
Dunia ke-2.