Game Sniper Elite 3 yang kita jual sudah termasuk : Extra features:
Supports Steam Big Picture Mode
Supports Stereoscopic 3D Ultra Widescreen Eyefinity screens
DLC's included :
Target Hitler: Hunt the Grey Wolf
Camouflage Weapons Pack
Hunter Weapons Pack
Allied Reinforcement Outfits Pack
Season Pass
Game dengan genre shooter memang menjadi salah satu yang terpopuler
dari sekian banyak genre lainnya. Beragam tema sudah diangkat oleh para
developer untuk memastikan game shooter miliknya punya ciri khas
tersendiri.
Sebagian besar dari Anda tentunya sudah pernah mencicipi Battlefield
series, Call of Duty series, Halo, atau Crysis. Dari sekian banyak judul
ternama, sesungguhnya ada satu judul lagi yang juga punya gameplay
menarik, yaitu Sniper Elite.
Ya, game ini memang berbeda karena memfokuskan diri pada seorang
penembak jitu. Gamer pun dituntut lebih tactical, tidak sekedar maju ke
garis depan lalu menghabisi musuh yang ada dengan senjata otomatis.
Kini Rebellion selaku developer telah menyiapkan karya terbarunya
yang diberi judul Sniper Elite 3. Trailer anyar pun sudah bisa
dinikmati. Dalam video berdurasi 1 menit 24 detik itu sang tokoh utama,
Karl Fairburne, tengah terlibat konflik di kota Tobruk, Libya. Perlu
diketahui bahwa Sniper Elite 3 berlokasi di Afrika Utara selama Perang
Dunia ke-2.
Dalam menghadapi sesuatu yang baru buat pertama
kali, apapun itu bentuknya, entah itu kencan pertama bareng gebetan,
ketemu camer, detik-detik kesan pertama itu bener-bener merupakan aspek
yang penting. Sama halnya dengan ketika lo nyoba sebuah game baru,
apapun genrenya. Kesan pertama begitu penting, terlebih lagi kalo itu
adalah game pertama dari genre favorit lo. Citarasa tahunan, kurang
kejutan, dan bikin ngantuk. Itulah tiga hal yang bisa ngegambarin kesan
gue setelah nyicipin 10 menit pertama mode campaign Call of Duty: Ghosts
di konsol PS3 gue. Untungnya ngga semua aspek kerasa ngebosenin. Ada
beberapa hal di Call of Duty: Ghosts yang menurut gue bisa ngasih
sedikit refreshing dari seri game FPS tahunan ini.
Story Line
Bisa dibilang plot cerita di tiap seri Call of Duty selalu punya
rumusan yang sama. Bahkan tergolong klise. Sudut pandang mayoritas
selalu menyorot kisah pihak militer Amrik yang penuh twist,
pengkhianatan, dan serangan dari negara-negara musuh Amrik atas dasar
perebutan kekuatan/kekuasaan. Ditambah dengan unsur box office di
dalamnya yang serba pengen nunjukin adegan lebih klimaks dan dramatis
(yang sayangnya seringkali alurnya gampang ketebak).
Ada satu
bagian adegan yang gue masih inget betul di Call of Duty: Ghosts ini
yaitu ketika lo sampai di misi dibawah ini. Apa lo masih inget adegannya
mirip di film apa?
Tapi mungkin buat kalian yang emang ngga terlalu punya ekspektasi
berlebih di aspek cerita bakal tetep bisa dapet beberapa unsur “kejutan”
dari Call of Duty: Ghosts ini. Mungkin ada baiknya biar bisa lebih
nikmatin alur cerita, lo bisa main dengan pace yang sedikit lebih
lamban.
Gameplay
Ngga banyak yang berubah dari tipikal gameplay franchise seri Call of
Duty. Mekanisme kontrol sepertinya sedikit mengalami perbaikan jadi
meski lo main pake gamepad sekalipun ngga terlalu canggung. Gue nemu
sedikit bug ketika masuk ke mode Aim Down Sight (ADS) dengan membidik
pake sniper. Terjadi sedikit stuttering sewaktu zooming seolah-olah lo
mencet tombol zoom beberapa kali, berhenti bereaksi sejenak dan mendadak
zoom lagi secara otomatis.
Selain dari itu selama misi campaign
lo bakal dipenuhi pengalaman bermain yang lumayan fresh dan seru.
Contohnya ketika lo diharuskan buat terus lari di environment yang penuh
getaran, momen dimana lo dibuat terbang melayang dengan lingkungan
bergravitasi nol, pertempuran di dalam air, nyetir beberapa kendaraan
tempur, sampai ke misi stealth yang hampir ngga kerasa stealth-nya.
Salah satu inovasi baru yang kerasa di mode campaign Call of Duty:
Ghosts adalah ketika lo bisa mengontrol Riley, seekor anjing ras
penggembala Jerman yang bisa lo perintah buat menyerang musuh secara
diam-diam. Sebenernya ngga sepenuhnya diam-diam, karena gue nemu momen
yang gue rasa konyol ketika ngasih perintah ke Riley di salah satu misi
stealth. AI musuh yang menjerit kesakitan dan jelas-jelas jatuh dengan
berisik seolah-olah ngga kedetek di telinga rekan AI yang
membelakanginya. Apa Riley emang anjing hantu yang bisa ngilangin aura
“keberadaan” korbannya biar mau menjerit sekenceng apapun? Mungkin bener
kalo ada gamer yang bilang ini bukan Call of Duty: Ghosts tapi lebih
tepatnya Call of Dog: Ghosts. Sayangnya Riley ngga begitu dapet banyak
jatah tampil karena waktu kemunculannya emang sangat singkat.
Graphic
Sepertinya Call of Duty: Ghosts lebih memilih berada di zona nyaman
seperti pendahulunya dalam aspek kualitas grafis. Beda dengan seri
Battlefield yang gue rasa banyak mengalami peningkatan di aspek ini.
Mungkin satu-satunya yang sedikit kerasa beda adalah ketika misi di
bawah air yang dulu paling sering dipamerin di beberapa ajang video game
(selain pamer anjing tentunya).
Apa emang Infinity Ward cuman fokus ngembangin kekerenan di level
bawah air dan fitur baru karakter anjing doang sehingga cuman dua aspek
ini yang bisa ketangkep di mata gue dan kerasa paling menonjol di mode
campaign Call of Duty: Ghosts?
Dengan kualitas grafis yang gue rasa perbedaannya ngga begitu
signifikan dengan pendahulunya, anehnya game ini punya frame rate yang
ngga stabil (hampir di semua platform). Di beberapa adegan lo bakal
sering ngalamin FPS drop dan hal ini berpengaruh ke aspek lain.
Sepertinya memang ada masalah performa yang ngga bisa dibenerin kecuali
via update patch terbaru.
Bisa jadi batas kemampuan current-gen console yang jadi penyebab tiap
aksi dan efek kehancuran environment dalam game jadi kurang greget,
kecuali lo main di next-gen console. Barangkali gue bakal nyoba balik
nyicipin mode campaign Call of Duty: Ghosts lagi di PS4, thanks to $10 upgrade program jadi bisa lebih hemat buat beli judul game yang sama di next-gen console.
Audio
Seperti yang gue bilang sebelumnya, frame rate yang ngga stabil
berpengaruh di aspek lain salah satunya di audio. Ada beberapa efek
suara yang hilang di beberapa adegan.
Secara keseluruhan kualitas audio & efek suara di Call of Duty:
Ghosts ngga punya suatu peningkatan yang signifikan. Riuh sepak terjang
peluru yang udah familiar, komposisi musik yang standar, dan aksen
pengisi suara yang tipikal di film action box office. There is nothing new but the crowd of the (usual) battlefield.
Replayability
Hampir ngga ada aspek yang bikin lo pengen ngulang mode campaign-nya
kecuali buat ngumpulin trophy/achievement. Salah satu yang mungkin bikin
lo betah berlama-lama ngulang main Call of Duty: Ghosts adalah mode
multiplayernya.
Longevity
Mode campaign Call of Duty: Ghosts terhitung cukup singkat. Dengan
waktu playtrough normal sekitar 5 jam lo udah bisa namatin story
modenya. Dari singkatnya mode campaign, disini kelihatan franchise seri
Call of Duty mengalami titik jenuh dari tahun ke tahun.
Hilangin ekspektasi berlebih dari mode campaign-nya dan mainlah
seolah-olah lo baru pertama kali main Call of Duty kalo pengen bisa
nangkep unsur kejutannya. Ngga banyak fitur dan aspek baru yang
signifikan dan lumayan seru kecuali nembakin peluru di dalam air &
nyuruh anjing yang penurut buat mengoyak tubuh musuh lo. Sayangnya lo
ngga bisa terus ngejalanin misi yang sebenernya cukup seru, dimana lo
bisa punya peliharaan yang bisa bikin lo berasa mirip Will Smith,
menyusuri puing-puing bangunan sambil waspada akan kehadiran musuh.
Kejenuhan yang mulai tampak di mode campaign sedikit terobati dengan
varian mode multiplayer yang sedikit lebih beragam. Secara keseluruhan
ngga banyak yang bisa bikin lo ngulang permainan campaign kecuali lo
seorang trophy/achievement hunter.