Belum begitu lama Assassin's Creed III
diluncurkan, para gamers sudah dikejutkan kembali dengan hadirnya sekuel
terbaru dari seri Assassin's Creed, yaitu Assassin's Creed IV: Black
Flag. Rumor mengenai sekuel terbaru itu, telah digembor-gemborkan sejak
awal tahun tepatnya pada bulan Februari 2013, sedangkan rilisnya
Assassin's Creed III dilakukan pada bulan Oktober 2013. Sehingga dapat
disimpulkan, Ubisoft memang sudah mempersiapkan sekuel baru tersebut dan
sudah sangat berniat untuk mengejutkan para gamers khususnya fans dari
seri game Assassin's Creed.
Assassin's Creed IV: Black Flag memiliki setting waktu pada abad
ke-18 dan memperkenalkan assassin baru bernama Edward Kenway, pemuda
Inggris yang haus akan bahaya serta petualangan. Edward akan
berpetualang sebagai prajurit Royal Navy sampai bajak laut, diantara
keadaan perang kerajaan yang besar. Edward yang digambarkan sebagai
bajak laut bengis dan petarung yang berpengalaman, terperangkap dalam
pertempuran antara kaum assassins dan templars. Bajak laut terkenal
seperti Blackbeard dan Charles Vane dapat para gamers lihat di dalam
game ketika telah berpetualang ke seluruh wilayah Hindia Barat. Sehingga
Assassin's Creed IV: Black Flag ini akan membawa para gamers ke dalam
masa-masa kejayaan para bajak laut yang sering disebut "Golden Age of
Pirates".
Assassin's Creed IV: Black Flag akan menghadirkan 50 tempat berbeda
di dalam game, seperti Kuba, Bahama, Nassau dan Florida Selatan, serta
sejumlah area seperti hutan, kuil reruntuhan Suku Maya dan kuburan
bangkai kapal di bawah laut. Gameplay sekuel terbaru dari seri game
Assassin's Creed itu tidak jauh berbeda dengan seri sebelumnya, pemain
masih akan bertarung dengan memanfaatkan berbagai senjata khas assassin
dan menghabisi musuh secara sembunyi-sembunyi.
Bagi gamers yang
ingin bermain Assassin's Creed IV: Black Flag dengan menggunakan PC,
dibawah ini adalah spesifikasi komputer yang direkomendasikan oleh
Ubisoft :
Operating System
Windows Vista SP 1, Windows 7 atau Windows 8 (32 dan 64 bit)
CPU
Intel Core i5 2400 2.5 GHz atau AMD Phenom II X4 940 3.0 GHz atau lebih baik
Memory
Minimal 2GB, Rekomendasi 4GB
Hard Drive Space
30 GB
Graphics Hardware
Nvidia GeForce GTX 470 atau AMD Radeon HD 5850 (1024 MB VRAM dengan Shader Model 5.0 atau diatasnya)
Tidak diragukan lagi bahwa Hideo Kojima telah
berani mengambil resiko ketika ia mempercayakan Platinum Games untuk
membuat salah satu dari seri Metal Gear. Ketika Kojima memilih studio
yang terbiasa untuk membuat sebuah game ‘full-action’, tentu para fans
menjadi sangat terkejut. Tetapi tudingan tersebut dapat ditepis ketika
Metal Gear Rising: Revengeance meluncur tahun lalu yang menuai banyak
pujian. Sekarang, dengan versi yang telah di-update dan hadir di
‘mustard-race platform’ ini, mereka yang belum sempat merasakan game ini
dapat merasakan versi definisi tinggi dari game action berbendera Metal
Gear ini, walau game ini terasa hadir sedikit terlambat.
Mengambil
latar tempat tepat setelah Metal Gear Solid 4: Guns of the Patriots
berakhir, Revengeance menugaskan Raiden untuk mengamankan seorang
perdana menteri di Afrika, N’Mani. Semua terjadi begitu cepat ketika
barisan konvoi dari perdana menteri tersebut diserang oleh sekelompok
teroris, yang menyebabkan kekacauan dimana mana. Upayanya untuk menolong
N’Mani ternyata berbuah buruk. N’Mani akhirnya terbunuh dan Raiden
hampir saja dihabisi oleh Jetstream Sam yang sangat kuat. Kemudian, tiga
minggu setelahnya, Raiden terbangun dengan seluruh upgrade termutakhir –
termasuk lengan cybernetic, menggantikan lengannya yang ditebas oleh
Jetstream Sam – dengan satu tujuan di pikirannya: Balas Dendam.
Apabila Anda adalah para fanboy yang mengharapkan game ini akan
setipe dengan game stealth action seperti Metal Gear Solid, Anda
sebaiknya menjauhi game ini, karena Anda berada di tempat yang salah.
Inti permainan dari Revengeance adalah aksi gila yang penuh dengan sabet
menyabet pedang serta pertempuran epic. Untungnya, game yang penuh
dengan aksi eksplosif ini berhasil untuk menciptakan nuansa baru dari
seri Metal Gear. Kami serius, ini adalah sebuah tipe baru dari game
blade combat yang telah Anda tunggu-tunggu semenjak Grey Fox menghabisi
ratusan tentara di Metal Gear Solid (MGS Fanboy will know this…)
Bahkan
dengan fokus utamanya pada combat, Revengeance berhasil untuk
menyajikan sebuah game action yang bermakna, dengan memberikan reward
kepada para pemain yang benar-benar memainkan game ini. Dengan
menyisihkan sedikit dari waktu Anda, Anda dapat memahami lebih dalam
tentang sistem combat yang diterapkan oleh game ini. Timing dan alur
penyerangan adalah kunci utama untuk menjadi seorang pembunuh yang
efektif, yang menjadi tujuan utama Raiden dibuat. Ini adalah hal yang
sangat penting, walaupun feel ketika memainkan game ini dengan mouse dan
keyboard tidak sama dengan saat kami memainkan game ini menggunakan
gamepad.
Memantapkan posisi Anda di medan pertempuran juga
merupakan hal yang sangat penting, yang dapat menambahkan ritme ke dalam
combat yang Anda temui, dan apabila Anda menghajar para musuh dengan
kecepatan serta waktu yang efisien, Anda akan menambahkan fuel cell
energy Anda. Resource ini akan memungkinkan Raiden untuk memasuki Blade
Mode, yang mana mode ini adalah salah satu inti dari combat system yang
ada di Revengeance. Dengan mengaktifkan mode ini, pemain akan diberikan
kebebasan untuk melibas targetnya sendiri dengan bantuan analog stick
(atau Mouse, apabila Anda menggunakan mouse dan keyboard.) Menebas badan
dan kepala musuh Anda tidak akan pernah seasyik ini.
Manfaatkan peluang yang diberikan oleh Blade Mode. Hal ini sangat
penting bagi Anda untuk mempelajari bagaimana cara untuk melakukan
teknik Zandatsu. Teknik ini akan menampilkan sebuah area berwarna merah
untuk Anda tebas, yang akan memisahkan musuh Anda dengan tulang belakang
mereka yang berpendar seperti lampu neon. Dengan mengumpulkan resource
ini dalam combat, Anda akan memiliki persediaan electrolytes yang akan
mengisi health dan fuel cell meter Anda. Hal ini menjadikan Anda akan
secara konstan menggunakan Blade Mode untuk menjaga laju tempur Anda
tetap stabil dan menjaga agar diri Anda tidak terpojok tanpa adanya
energi untuk melarikan diri dari kepungan musuh.
Setelah Anda berhasil mengiris-iris boss terakhir untuk rebusan
Zandatsu Anda, beberapa pilihan akan tersedia untuk Anda jelajahi. Anda
dapat memainkan game ini kembali dengan tingkat kesulitan yang lebih
tinggi, yang akan menghadirkan sebuah tantangan untuk Anda yang ingin
menajamkan skill Anda. apabila Anda menginginkan sesuatu yang sedikit
berbeda kali ini, Anda cukup beruntung, karena kali ini di versi PC-nya,
game ini menghadirkan expansion pack berupa DLC yang menceritakan
tentang Jetstream Sam dan Blade Wolf, yang menambahkan beberapa jam
tambahan gameplay (yay!) Ya, walaupun DLC ini bukanlah sebuah campaign
penuh, tetapi dengan dimungkinkannya kita memainkan karakter yang
berbeda ini menjadikannya sebuah hal baru yang cukup menarik. Sebagai
tambahan, lebih dari lima puluh misi VR juga disertakan yang akan
menyajikan aksi instan kepada Anda untuk menguji kemampuan refleks dan
skill Anda.
Menutup review kali ini, versi porting PC dari Metal Gear Rising: Revengeance ini
adalah sebuah ‘paket komplit’ yang menyajikan sebuah peningkatan yang
cukup menarik, baik dari sisi frame rate maupun visualnya. Walau
kehadirannya terasa sedikit terlambat, game ini terasa lebih asyik
dimainkan ketimbang saudara kembarnya yang hadir di konsol. DLC yang
hadir dalam satu paket penjualannya menjadikan versi definisi tinggi
dari Metal Gear Rising: Revengeance ini adalah game yang cukup
wajib untuk Anda beli. Kecuali apabila Anda telah lebih dahulu
membelinya untuk PS3/Xbox 360 Anda, karena dari segi lain tidak ada
aspek yang mengalami peningkatan secara signifikan.
Hampir sepuluh tahun sejak terakhir kalinya rilis
Thief: Deadly Shadows, Eidos berhasil merilis entri keempat dari
franchise tersebut dengan judul Thief. Ini merupakan suatu bentuk reboot
dari franchise tersebut sebagaimana Square Enix yang akhir-akhir ini
memang hobi untuk membangkitkan judul-judul lama seperti Deus Ex: Human
Revolution dan Tomb Raider yang terbukti sukses.
Reboot ini dimulai dengan Garrett, sang Master Thief, yang harus
mencuri sebuah kristal bersama anak didiknya. Karena suatu insiden,
proses pencurian pun gagal dan anak didiknya pun hilang. Garrett
tersadar pada satu tahun kemudian ketika ia sedang dibawa menuju The
City, tempat asalnya. Dari sini, Garrett harus mencari tahu apa yang
terjadi pada dirinya sambil menghadapi tirani The Baron dan anak buahnya
yang berkuasa di kota kelam yang dilanda wabah Gloom tersebut.
Masih seperti judul-judul sebelumnya, gameplay dalam Thief
benar-benar sangat berfokus pada stealth. Melihat kesuksesan Deus Ex:
Human Revolution, Eidos Montreal menawarkan tiga cara bermain yang
berbeda: Ghost, Opportunities, dan Predator. Di akhir misi, gamers bisa
mengetahui gaya bermainnya lebih condong ke arah mana. Gamers pun bisa
mengulang misi apabila tidak puas dengan hasilnya.
Dalam Thief, Garrett hanya mempunyai dua macam senjata: blackjack
untuk melee dan busur panah untuk jarak jauh. Gamers tidak perlu
khawatir karena Garret membawa berbagai macam panah yang kegunaannya
disesuaikan menurut situasinya, mulai dari panah tumpul untuk
mengaktifkan switch, panah untuk membunuh, panah untuk memadamkan api,
hingga panah dengan tali.
Semua keperluan Garrett, mulai dari panah, peralatan, dan lainnya,
memerlukan uang untuk dapat diperoleh. Tentunya sebagai pencuri, gamers
akan mengumpulkan uang dengan cara mencuri. Benda yang dicuri
benar-benar banyak, mulai dari sendok dan garpu hingga perhiasan. Ada
barang-barang collectible seperti perhiasan yang unik atau plat yang
tersebar di kota.
Kelamnya atmosfir The City benar-benar terasa karena didukung grafik dan audio yang cukup menakjubkan. Dalam Thief ini, gamers harus benar-benar mengandalkan bayangan. Oleh karena itu, Eidos Montreal tidak main-main dalam teknologi lighting di
game ini. Pencahayaan yang terlihat benar-benar detil, dan berhasil
membuat suasananya kelam. Pengarahan audio pun tidak kalah. Sesekali
gamers bisa mendengarkan dialog penduduk The City yang menceritakan
betapa tidak nyamannya suasana kota tersebut.
Seperti yang sudah disebutkan di atas, Eidos Montreal menganut sistem Deus Ex: Human Revolution dimana
gamers bisa bebas memilih gaya bermain dan menawarkan beberapa rute
jalan menuju tujuan. Tetapi karena Garrett adalah seorang pencuri, hal
ini terkesan malah membuat gerakan Garrett lebih terbatas. Jika gamers
ingin bermain dengan gaya agresif terdapat kesulitan akibat senjata yang
tidak terlalu kuat dan senjata musuh yang lebih kuat. Sedangkan karena
ada beberapa rute yang ditawarkan, game-nya jadi memberi kesan yang
memaksa gamers untuk melalui rute-rute tersebut, tidak bisa bebas
mencari jalan yang unik sendiri.
Di satu sisi, mungkin Thief ini terasa lebih terbatas jika dibandingkan dengan Dishonored, dimana game tersebut memiliki setting mirip, yaitu steampunk. Namun, Thief cocok bagi mereka yang ingin bermain stealth sepenuhnya. Belum lagi Eidos Montreal menawarkan kustomisasi untuk tingkat kesulitan seperti akan langsung game overapabila ketahuan atau harus mengulang game dari awal apabila mati.
Final Verdict
Penggemar klasik Thief mungkin akan merasa entri terbaru Thief ini lebih terbatas jika dibandingkan dengan judul-judul sebelumnya. Tetapi sebenarnya Thief adalah judul yang benar-benar memaksa gamers untuk bermain secara stealth. Jika gamers merasa akhir-akhir ini tidak ada game stealth yang menantang, Thief bisa menjadi pilihan yang cukup baik. (RG).
Setelah mengalami penundaan perlirisan pada tahun 2013, akhirnya pada
tanggal 27 Mei 2014 game dari Ubisoft Montreal, Watch Dogs telah
dirilis ke seluruh dunia. Game ber-genre action adventure yang bercerita
tentang seorang hacker bernama Aiden Pierce ini ber-setting pada masa
depan kota Chicago dimana sistem pada kota tersebut dikendalikan oleh
satu sistem super komputer yang dinamakan CtOS.
Sebelum membaca ulasan ini lebih lanjut, yuk nonton trailer-nya terlebih dahulu.
Game yang mulai dikembangkan pada tahun 2009 dan mulai diumumkan pada
acara konfrensi pers E3 2012 ini dapat dimainkan pada konsol
PlayStation 4, PlayStation 3, Xbox One, Xbox 360 dan PC. Rencananya
Watch Dogs juga akan dirilis untuk konsol Nintendo Wii U pada kuartal
keempat tahun 2014. Terdapat perbandingan grafis yang ditampilkan pada
masing-masing konsol dimana pada konsol PlayStation 4 dan Xbox One,
Watch Dogs sangat keren tapi pada PlayStation 3 dan Xbox 360 game ini
dinilai cukup mengecewakan.
Watch Dogs mengadopsi sitem open world dalam gameplay-nya dimana hal
tersebut memungkinkan gamers untuk mengeksplorasi secara luas dan bebas
apa yang terdapat di dalam game serta memilih misi sampingan apa yang
ingin dikerjakan. Alur cerita yang ditampilkan dalam misi utama semakin
menarik dengan cutscene panjang dengan adegan hancking yang sangat
profesional. Selain itu, gamers juga dapat memainkan beberapa mini game
yang semakin membuat konten di game ini jadi semakin kaya. Watch Dogs seringkali dibanding-bandingkan dengan game buata Rockstar Games, Grand Theft Auto V(GTA 5), game yang juga mengadopsi sistem open world yang
bercerita tentang 3 orang gangster bernama Michael De Santa, Trevor
Philips dan Franklin Clinton. Hal yang sering dibandingkan antara laingameplay-nya dimana antara Watch Dogs dan GTA 5 sama-sama
memungkinkan gamers untuk mengesplorasi dunia sesuai dengan keinginan
baik saat sedang menjalankan misi maupun ketika seluruh misi sudah
diselesaikan.
Gamers dimungkinkan untuk mencuri
kendaraan seperti mobil dan motor yang sedang berlalu lalang di kota
Chicago, menembak pejalan kaki yang menghalangi perjalanan, berenang dan
beberapa hal lainnya. Hanya saja Watch Dogs, pada karakter Aiden, memiliki hal yang tidak ada di ketiga tokoh GTA 5 yaitu kemampuan meretas yang sangat canggih dengan menggunakan smartphone yang dilengkapi dengan banyak aplikasi antara lain Profiler dan Crime Prevention System.
Game
yang diperlihatkan dalam sudut pandang orang ketiga ini menjadi semakin
mengagumkan dan bisa juga dikatakan usil dengan kemampuan tokoh utama,
Aiden untuk mengendalikan perangkat komputer yang ada di sekitarnya
hanya dengan smartphone yang kru KotGa jelaskan sebelumnya. Salah satu
aksihacking paling jahil yang ditampilkan pada
game ini adalah dengan mengendalikan lampu lalu lintas sehingga
menyebabkan terjadinya tabrakan beruntun di perempatan jalan.
Lingkungan di game ini berlangsung dengan sangat natural dimana
setiap karakter memiliki reaksi dan sifatnya tersendiri. Ada yang
pemarah, biasa saja, penakut, ada juga yang merasa terganggu apabila
Aiden mendekat kepadanya dan masih banyak lagi. Selain itu, gamers juga
bebas untuk menentukan skill dan kemampuan apa yang dimiliki Aiden
dimana gamers dapat melakukannya dengan mendistribusikan skill point
pada skill tree yang ada seperti kemampuan hacking, combat dan
lain-lain.
Selain mengendalikan kota Chicago dengan kemampuan hancing, gamers
juga dapat memanfaatkan lingkungan sekitar yang tidak menggunakan
komputer dengan baik untuk melarikan diri dari kejaran polisi atau
mengejar target seperti melompat diantara bangungan dan menaiki dinding
dengan gerakan gerakan Parkour yang keren. Namun gamers juga dapat
mengkombinasikan antara kemampuan bertarung, aksi kejar-kejaran dengan
kemampuan hacking sehingga pengalaman dalam bermain jadi jauh lebih
canggih dan seru.
Secara keseluruhan, Watch Dogs merupakan game dengan alur cerita yang
sangat seru, aksi memukau serta grafis yang bisa dibilang luar biasa
walaupun tergantung dari konsol yang digunakan atau spesifikasi PC yang
digunakan pada PC. Namun jika dibandingkan dengan GTA 5, kru KotGa
berkseimpulan bahwa Watch Dogs memiliki gaya permainan yang tidak jauh
berbeda dengan game buatan Rockstar Games itu, hanya saja dengan
kemampuan hack yang membuat permaian jadi lebih mudah.
Dead Rising 3 - Include DLC Untold Stories Eps.1 - 4 (7 DVD). Game sudah termasuk DLC Untold Stories. Episode 1 sampai Episode 4.
Berikut Review Game nya
Untuk beberapa gamer, atau bahkan untuk
kebanyakan gamer, aksi brutal sama dengan fun, apalagi jika kita tidak
perlu memikirkan konsekuensi moral dan bebas membabi buta. Sepertinya
hal inilah yang membuat game action yang melibatkan zombie naik daun dan
digemari banyak orang. Dan salah satunya adalah Dead Rising 3 yang
memeriahkan peluncuran Xbox One tahun lalu, yang tanpa berbasa-basi
menyajikan gameplay action yang intens, brutal, simple, dan pastinya
mengasyikkan.
Glorious Chaos is not Pretty
Hal pertama yang
harus kamu ketahui, Dead Rising 3 bukan untuk gamer yang mencari-cari
grafik yang mulus. Walaupun tidak jelek, tampilan game bertemakan zombie
yang satu ini hanya setara resolusi 720p. Dan meski masih menampilkan
efek-efek visual dan animasi tambahan sebagai pemanis, fokus game ini
adalah pada gameplay. Yep, tidak ada yang lebih memuaskan dan efektif
sebagai penghilang stres selain melampiaskannya pada kerumunan zombie
digital, dengan begitu banyak senjata dan begitu banyak cara membunuh
zombie sesukamu. Dan tenang saja, kamu tidak akan kehabisan zombie untuk
dihabisi karena salah satu kelebihan yang membuat Dead Rising 3 begitu
fun dan intens adalah jumlah: ratusan zombie dalam satu layar siap
menjadi korbanmu!! Dan lebih hebatnya lagi, ada cukup banyak variasi
tampilan zombie sehingga kamu tidak akan merasa terus-menerus melawan
zombie yang sama. Most Enjoyable War Against Zombies
Combat dalam
DR3 cukup sederhana, dengan pilihan serangan Light Attack atau Heavy
Attack. Tapi yang membuatnya menarik adalah animasi yang bervariasi dari
setiap gerakan dalam combat, serta efek yang berbeda-beda untuk setiap
senjata. Dan asal tahu saja, ada lebih dari 300 alat atau benda yang
bisa dijadikan senjata di sini. 300 men!! Hajar dengan tangan kosong,
tangkap satu lalu banting dengan kejam, hantam dengan palu godam,
lubangi dengan senapan mesin, bakar, ledakkan, atau bahkan lempar dengan
batu. Oh, dan jangan lupa, kamu juga bisa menaiki beragam jenis
kendaraan. Dari mobil keluarga yang biasa kamu lihat di jalan raya
sehari-hari, sampai buldoser bertaring yang dilengkapi sepasang
flamethrower.
Agar pemain selalu tertantang dan tidak cepat bosan dengan senjata
yang itu-itu saja, senjata memiliki batas penggunaan. Setelah beberapa
kali digunakan, sebuah senjata dapat hancur atau kehabisan amunisi,
sehingga kamu dipaksa untuk terus mencari senjata baru. Atau mungkin
kamu bosan dengan senjata normal yang biasa-biasa saja? Carilah resep
weapon crafting dan buatlah senjata sendiri!! Menariknya lagi, resep
senjata ini semakin lama akan semakin konyol dan semakin menggila,
sehingga nantinya kamu bisa membuat senjata laser dari sebuah microwave,
boneka Teddy Bear dengan senapan mesin yang bisa menjadi turret,
sehingga membuat lightsaber ala Star Wars dari sebuah senter. Fitur
weapon crafting ini juga menjadi suatu kelebihan berkat rasa puas yang
lebih terasa saat menemukan resep senjata dibandingkan dengan game lain,
di mana umumnya collectibles tidaklah berarti dan tidak bermanfaat
apa-apa selain sebagai suatu achievement.
A Stage for ComedyMeskipun berfokus pada Action,
DR3 bukanlah tanpa cerita. Gamer akan memainkan karakter Nick Ramos
yang tampaknya penuh dengan konflik internal di balik usahanya untuk
bertahan hidup di dunia penuh zombie ini. Bagaimana tidak; di satu
adegan Nick bisa bersedih dan menyesal karena terpaksa mengambil nyawa
seseorang, tapi semenit setelahnya dia siap beraksi menggunakan senjata
custom dari pembersih taman dan mainan, serta mengenakan topi dan kostum
yang konyol. Jelas saja, Dead Rising 3 bukanlah game dengan cerita atau
plot yang serius. Game yang luar biasa fun ini adalah sebuah parodi di
mana tujuan utama gamer adalah bersenang-senang. Maka jangan heran jika
semakin jauh ke dalam game-nya ataupun dalam mode multiplayer, kamu bisa
menemukan berbagai kostum lucu dan konyol. Tapi di luar itu semua, DR
ketiga ini menyajikan cerita zombie yang klise.
Kali ini gamer tidak perlu pusing soal karakter NPC yang menjadi
companion-mu. Jika kamu sedang tidak ingin membasmi zombie, companion
juga hanya akan mengikuti karaktermu dan tidak akan tertinggal. Jika
kamu menginginkan adegan "pertempuran" yang epik, maka berikan mereka
senjata paling aneh dan biarkan mereka bekerja. Untungnya, kali ini para
NPC tidak akan berbalik menyerang jika gamer tidak sengaja memukul atau
menembak mereka. Selain itu, karakter-karakter sampingan ini memiliki
latarbelakang dan kepribadian masing-masing, sehingga ketika ditambah
dengan beragam side-quest, dialog dan tingkah laku yang lucu, aksi dan
petualanganmu di sepanjang cerita zombie apocalypse ini selalu terasa
menarik dan bervariasi. Dan tenang saja, setiap karakter NPC di sini
diperankan dengan cukup bagus dan meyakinkan. Di lain pihak, mungkin
pada akhirnya kamu akan memutuskan untuk tidak membawa companion sama
sekali karena sepertinya AI NPC di sini belum sempurna, di mana mereka
akan sering menghalangi jalanmu, menghalangi pintu, menghalangimu
mengambil item, bahkan menghalangimu dari zombie incaran.
Sebagai tambahan (yang sangat terlihat), Capcom juga berhasil
menghadirkan dunia open-world yang menarik untuk dijelajahi, terdiri
dari beragam lokasi yang interaktif dan ditampilkan secara detail,
sehingga benar-benar terasa seperti dunia modern di tengah kekacauan.
Dead
Rising 3 menyajikan dunia yang "hidup", diisi oleh cerita dan karakter
yang menarik dalam nuansa yang komikal, dan tentu saja aksi yang intens
dan mantap. Walaupun tidak memiliki tampilan yang "wah", namun fokusnya
pada gameplay layak diacungi dua jempol dan menjadikannya game yang
adiktif dan sangat fun. Penggemar action? Penggemar zombie? Dead Rising 3
wajib kamu mainkan!!
Publisher: Capcom
Developer: Capcom Game Studio Vancouver
Genre: Action
Platform: Xbox One
Berita membahagikan tentu saja bagi para gamer PC
yang juga kebetulan mengikuti sepak terjang Naruto, baik lewat versi
manga atau anime. Setelah sempat menjadi game yang dirilis secara
eksklusif untuk konsol, Bandai Namco memang mulai memperlihatkan sikap
yang melunak pada PC, apalagi setelah melihat potensi penjualan yang
bisa ia hasilkan. Mengikuti rilis Ultimate Ninja Storm 3 yang
mendapatkan respon cukup baik, seri game Naruto terbaru – Ultimate Ninja
Storm Revolution juga dipastikan akan mampir di PC beberapa waktu yang
lalu. Menariknya lagi, dengan posisinya sebagai game yang dirilis di
platform generasi sebelumnya, ia tidak membutuhkan spesifikasi yang
terlalu berat.
Ada segudang alasan untuk menantikan seri Revolution ini, tentu saja.
Tidak hanya perkembangan karakter yang kini mengikuti jalan cerita
terbaru dari manga yang terus tumbuh, tetapi juga beragam konten ekstra
yang disuntikkan ke dalam game ini. Dari sekedar karakter original,
hingga latar belakang cerita Akatsuki yang bahkan mendapatkan porsi
animasinya sendiri. Namun kekuatan utama tentu mengakar pada inovasi
mekanik gameplay, termasuk kehadiran serangan terkuat berbasis tim yang
tampil sangat sinematik. Tidak sabar lagi ingin mencicipinya? Pastikan
terlebih dahulu rig Anda akn mampu menangani game yang satu ini:
Minimum Requirements:
OS: Windows XP or higher with latest Service Pack
Processor: 2.3 GHz Dual Core or AMD
Memory: 1 GB RAM
Graphics: 512 MB video cards Pixel Shader 4.0 (Geforce 8xxx-ATI HD2xxx)
DirectX: Version 9.0c
Hard Drive: 8 GB available space
Recommended Requirements:
OS: Windows 7 or higher with latest Service Pack
Processor: Intel i3-530, 2.93Ghz / AMD Phenom II X4 940, 3.0GHz
Memory: 4 GB RAM
Graphics: 1024 MB video card, Pixel Shader 4.0, DirectX10 GPU
DirectX: Version 9.0c
Hard Drive: 8 GB available space
Bagaimana dengan PC Anda sendiri? Siap untuk menjalani petualangan baru Naruto yang satu ini?